Keberanian Mengatakan Kebenaran Merupakan Tanggung Jawab Etis

Posted on

Suatu ketika, Pantheos kedatangan seorang pelayannya. Sang pelayan meng hadap Pantheos dengan niat melaporkan kepanikan dan kekacauan yang melanda masyarakat Kota Thebes akibat kegilaan gadis-gadis pengikut Dionisos. Namun, dalam tradisi lama Kota Thebes, orang yang membawa kabar baik biasanya akan diberi imbalan dan, sebaliknya, orang yang membawa kabar buruk akan diberi hukuman. Mengingat tradisi lama itu, sang pelayan jadi ciut nyalinya untuk melaporkan kepada Pantheos apa yang sebenarnya telah terjadi.

Maka, demi keterusterangan terhadap raja, sang pelayan berkata: “Hamba datang dengan maksud memberi tahu paduka, junjungan hamba, dan polis, perihal perbuatan ganjil dan mengerikan suatu perbuatan yang tidak masuk akal. Tetapi terlebih dahulu hamba hendak mengetahui apakah hamba dapat berbicara dengan bebas atas apa yang ada di sana, atau apakah hamba harus memangkas kata-kata hamba. Hamba khawatir paduka murka…” (hlm. 26). Pantheos akhirnya mengerti. Sang Pelayan dipersilakan mengatakan semua hal yang telah terjadi.

baca juga : harga genset Perkins murah

Dan Pantheos tidak akan memarahi. Itulah cuplikan dari drama tragedi karya Euripides berjudul Bakkhai. Nukilan kisah itu dikutip oleh Michel Foucault dalam ceramahnya yang bertajuk “Wacana dan Kebenaran” di Universitas California pada musim gugur 1983 untuk menjelaskan satu konsep Yunani yang disebut Parrhesia. Dalam bahasa Yunani, parrhesia bermakna “berbicara bebas”(free speech). Derivatnya ada dua, yaitu parrhesiazesthai yang bermakna penggunaan parrhesia dan parrhesiastes yang berarti orang yang menggunakan parrhesia.

Umumnya, parrhesiastes itu dipahami sebagai orang yang berbicara kebenaran (hlm. 2). Mengapa orang yang berbicara kebenaran itu mendapat penamaan khusus? Karena mengungkapkan kebenaran itu lebih susah dibanding mencari kebenaran. Pengungkapan kebenaran terkadang disertai ancaman, jika kebenaran yang hendak diungkapkan itu dapat mengganggu stabilitas kekuasaan. Pengungkapan kebenaran, karena itu, selalu butuh keberanian. Hal itu terilustrasikan dengan baik dalam cuplikan drama tragedi Euripides.

Cuplikan itu menggambarkan bahwa untuk menjadi parrhesistes, orang yang berani berkata benar, seseorang harus bisa berterus-terang (hlm. 2- 4) dalam menyingkapkan kebenaran (hlm. 4-7), meskipun ada bahaya yang mengancam (hlm. 7-9).

Bahaya inilah, menurut Foucault, yang membedakan seorang parrhesiastes dengan orang yang hanya mengajarkan kebenaran biasa. Misalnya, seorang ahli bahasa di akun Twitter-nya menunjukkan aturan baku penulisan sebuah kata. Ia memang telah menyampaikan sebuah kebenaran mana penulisan yang benar dan mana yang salah.

Namun ahli bahasa tersebut tak bisa dikatakan telah menggunakan parrhesia karena tak ada bahaya yang menyertainya. Berbeda dengan, misalnya, seorang aktivis atau filsuf di akun media sosialnya menunjukkan ketidakberesan pemerintah. Ada risiko ia dikenai pasal penghinaan terhadap penguasa dan ancaman penjara.

Lantaran bahaya itulah, aktivis atau filsuf tersebut bisa disebut sebagai parrhesiastes. Bahaya itu muncul karena kebenaran yang diungkapkan dalam bahasa Foucault“memproblematisasi” kemapanan kekuasaan. Parrhesia, karenanya, juga punya fungsi sebagai kritik (hlm. 9-12). Namunparrhesia, sebagai sebuah keterusterangan dalam memberikan kritik, hanya akan menjadi ocehan tak bermakna jika tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup komprehensif. Dalam drama tragedi Euripides yang lain, yang berjudul Orestes, kata itu muncul dalam satu frasa yang dapat diterjemahkan sebagai “keterusterangan dungu” (ignorant outspokenness).

Frasa itu digunakan untuk menggambarkan tindakan Talthybios yang memberikan satu kesaksian kabur dalam sebuah persidangan. Kesaksiannya itu menjadi kabur alias tidak jelas karena tidak didasarkan pada pengetahuan dan kesetiaan akan kebenaran. Ia memberikan sebuah kesaksian hanya demi menyenangkan orang-orang yang berkuasa atas dirinya.

Manusia macam Talthybios itu mungkin sadar bahwa kebenaran itu berbahaya dan ia tak cukup berani untuk menanggung bahayanya. Akhirnya ia menjadi manusia munafik dan penjilat. Jika dilihat dari masa hidup Foucault, manuskrip kuliah yang diterjemahkan oleh Haryanto Cahyadi ini disampaikan satu tahun sebelum kematian filsuf Prancis itu. Bisa dibilang teks ini mencerminkan fase terakhir dari perkembangan pemikiran Foucault.

Dan parrhesia, keberanian mengatakan kebenaran, memang tampak sebagai satu tanggung jawab etis seorang intelektual atas satu fakta yang jauh-jauh hari sudah disingkapkan oleh Foucault, bahwa kekuasaan dan pengetahuan selalu punya relasi mutual. Seorang filsuf, pemikir, atau ilmuwan harus selalu berani memproblematisasi “hubungan mesra” pengetahuan dengan kekuasaan. Dengan demikian, filsuf, pemikir, atau ilmuwan tak boleh menjadi “budak” atau “istri simpanan” penguasa.

Foucault telah mencontohkan itu dengan sangat sempurna. Ia menjadi seorang filsuf-aktivis kiri yang kritis terhadap beragam kontrol sosial penguasa, yang beroperasi melalui pengetahuan, atas tubuh politik manusia. Buku-bukunya, dari History of Madness in the Classical Age, The Birth of the Clinic, The Order of Things, Discipline and Punish, hingga The History of Sexuality, adalah monumen-monumen agung yang memberikan kesaksian atas sikap dan pemikiran kritis Foucault. Buku ini adalah inti sari dari spirit semua monumen agung itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *