Mencegah Penyakit Gumboro Menyerang Ayam Ternak

Posted on

Penyakit Infectious Bursal Diseases (IBD) atau yang biasa dikenal dengan penyakit gumboro masih dianggap sebagai momok bagi peternakan ayam. Pasalnya, kasus gumboro ini seakan sudah melekat di peternakan ayam. Vaksinasi yang telah menjadi program wajib yang dilakukan peternak, namun kasus serangannya masih sering berulang. Mengapa demikian ?

Mencegah Penyakit Gumboro Menyerang Ayam Ternak

Gumboro dan Imunosupresi
Penyakit gumboro menginfeksi sistem kekebalan tubuh ayam, khususnya bursa Fabricius yang berfungsi memproduksi antibodi atau kekebalan tubuh. Maka dapat dikatakan bahwa gumboro merupakan salah satu agen penyebab imunosupresi. Bursa fabricius terletak di bagian atas lubang dubur (kloaka) ayam dan sedang berkembang aktif pada umur 3-4 minggu dan akan mengalami pengecilan hingga hilang di ayam berumur 18 minggu atau saat dewasa kelamin. Itu sebabnya kasus gumboro cenderung menyerang di umur tersebut.

Analisis Kasus Gumboro Berulang
Mengapa kasus gumboro bisa terus berulang? Berikut adalah faktor predisposisi penyebab siklus penyebaran gumboro:

1. Ketahanan Virus Berada di Lingkungan Untuk mencapai bursa fabricius, virus dapat ditularkan secara langsung melalui leleran tubuh dan feses ayam terinfeksi ke ayam yang sehat. Virus yang sudah sampai bursa fabricius, kemudian bereplikasi (memperbanyak diri) dan menginfeksi organ tersebut. Selesai menginfeksi, sebagian virus akan keluar dari tubuh ayam bersama feses dan mengontaminasi lingkungan. Virus gumboro yang tahan lama berada di lingkungan tersebut akan masuk ke tubuh anak ayam diperiode pemeliharaan selanjutnya. Antibodi maternal pada anak ayam semakin lama akan menurun dan ketika antibodi ayam tidak mampu menghadang atau anak ayam terlambat untuk divaksin gumboro, maka virus akan berhasil masuk ke bursa fabricius, lalu bereplikasi, menginfeksi dan keluar lagi (dari tubuh ayam).

Begitu seterusnya siklus virus gumboro dalam menyerang. Karena itu, disarg setelah kandang bersih dan didesinfeksi. kandang seoptimal mungkin sebelum chick in guna meminimalkan keberadaan virus gumboro di lingkungan. Persiapan kandang tersebut meliputi pembuangan material organik (sekam bekas, sisa pakan maupun feses), pencucian kandang dan peralatannya. Kemudian desinfeksi berulang menggunakan desinfektan yang tepat (Antisep, Neo Antisep, Formades atau Sporades). Serta yang paling penting pula yaitu menjalankan istirahat kandang minimal 14 hari (makin lama semakin baik), terhitung setelah kandang bersih dan didesinfeksi.

2. Adanya Vektor Bertahan di Kandang
Kumbang, cacing, lalat, nyamuk bahkan tikus bisa berperan sebagai vektor. Salah satu vektor utamanya adalah kumbang Alphitobius diaperinus (Franky) dan Carcinops purnilio. Vektor tersebut umumnya sudah terbiasa hinggap pada feses dan sesaat kemudian pindah ke tempat ransum dan air minum. Fogging perlu dilakukan dengan insektisida seperti Delatrin untuk membasmi vektor virus gumboro tersebut.

3. Evaluasi Program Vaksinasi Gumboro
Untuk mencegah kasus gumboro, sudah sewajibnya kita menjalankan vaksinasi secara tepat waktu, tepat jenis dan tepat aplikasi. Dengan vaksinasi tepat waktu, virus vaksin akan menstimulasi pembentukan antibodi yang tinggi lebih dulu di dalam tubuh ayam sebelum virus gumboro lapang berhasil mencapai bursa fabricius. Sehingga, outbreak gumboro pun bisa dicegah. Aplikasi vaksinasi yang tepat dengan jenis vaksin yang sesuai menjadi poin penting pendukung keberhasilan vaksinasi gumboro. Aplikasi pemberian vaksin yang tidak sesuai dengan target organ akan menyebabkan vaksin yang diberikan tidak maksimal dalam merangsang pembentukan antibodi.

Vaksinasi Gumboro
Untuk menentukan umur vaksinasi gumboro menggunakan vaksin aktif, peternak perlu melakukan pengukuran level antibodi maternal di laboratorium (uji serologi ELISA). Selain berpatokan pada level antibodi maternal, dalam menentukan umur vaksinasi gumboro kita juga perlu mempertimbangkan sejarah kasus gumboro pada periode pemeliharaan sebelumnya sesuai kondisi farm masing-masing. Misalnya, serangan kasus gumboro pernah terjadi di umur 23 hari, maka vaksinasi gumboro untuk periode selanjutnya dapat dilakukan paling lambat 2 minggu sebelum umur serangan penyakit, yaitu umur 9 hari. Namun pada kondisi tertentu dimana serang an gumboro terjadi pada umur < 21 hari, maka vaksinasi tetap dilakukan saat kadar antibodi maternal masih relatif tinggi (umur 7 hari). Untuk menghindari pembentukan titer antibodi yang tidak optimal akibat efek netralisasi tersebut, maka perlu memilih vaksin gumboro aktif dari jenis intermediate plus seperti Medivac Gumboro A yang mampu menembus antibodi maternal yang lebih tinggi.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pastikan juga vaksinasi gumboro diberikan dengan metode per oral, yaitu melalui cekok atau tetes mulut dan air minum. Alasannya tidak lain agar virus vaksin secara langsung dapat menuju ke bursa fabricius yang berada di ujung saluran pencernaan (kloaka, red). Aplikasi vaksinasi melalui metode cekok atau tetes mulut dapat diberikan pada umur = 10 hari agar memperoleh tepat 1 dosis masing-masing ayam, sehingga tingkat kekebalan lebih optimal. Sedangkan pada umur > 10 hari dapat diberikan melalui tetes mulut atau air minum. Vaksinasi via air minum sebaiknya dilakukan pada pagi hari, karena merupakan waktu puncak ayam beraktivitas dan mengonsumsi air minum serta kondisi lingkungan yang relatif masih nyaman.

Sebelum diberi air minum yang berisi vaksin, ayam dipuasakan minum terlebih dahulu selama 1-2 jam tergantung cuaca. Apabila kondisi lingkungan kandang sangat panas, puasa minum cukup selama 1 jam. Pastikan air minum yang digunakan untuk melarutkan vaksin bebas kaporit, desinfektan, ataupun logam (besi, Ca, Mg, dll.) dan memiliki pH netral. Berikan pula Imustim 3 hari sebelum dan 3 hari sesudah vaksinasi sebagai imunostimulan guna membantu fungsi kerja organ kekebalan yang sudah terbentuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *