Dari Auditor Sampai Jadi Bos PTPN IX Bag. 1

Posted on

Semangat untuk terus membangun diri dan karier telah menghantarkan Iryanto H.Hutagaol sukses menjadi Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IX sejak tahun 2017. Sebelum ia menduduki jabatan strategis tersebut, Iryanto merupakan Direktur Keuangan Perum Bulog sejak tahun 2015.

Kesuksesan pria kelahiran Palembang, 19 April 1962 ini menjadi orang nomor satu di perusahaan perkebunan milik negara tersebut, tidaklah diraih dengan mudah.

Sebelumnya dia telah malang melintang selama 30 tahun bekerja di berbagai perusahaan, baik swasta maupun perusahaan milik negara. Pengalaman yang panjang itu lah yang membentuk karakter dan cara pandang, sekaligus menjadi bekal baginya menjadi pemimpin perusahaan.

Berpegang teguh pada prinsip, “terus berkarya dalam hidup, sampai langit adalah batasnya” menjadikannya tak mengenal lelah untuk terus bekerja.

Prinsip itu juga yang membuatnya ingin terus meningkatkan kemampuan dari waktu ke waktu. Baginya, setiap pekerjaan yang dikerjakan adalah kesempatan untuk terus mematangkangkan diri dalam membangun karier.

PTPN IX

Iryanto mengatakan, pengalaman berkarya selama tiga dasawarsa telah membentuknya hingga benarbenar matang. “Saya sudah bekerja sejak tahun 1988, jadi tidak bisa tiba-tiba menjadi CEO (Chief Executive Offi cer).

Saya menganggap diri saya sebagai CEO selama 30 tahun berkarya. Karena perjalanan waktu itulah yang membentuk saya,” kisah Iryanto saat menceritakan perjalanan karirnya kepada KONTAN, belum lama ini.

Iryanto menuturkan, kesuksesannya saat ini tak terlepas dari peran orang tuanya. Karena waktu lulus SMA, ayahnya yang seorang anggota militer tak menuntunya memilih karier yang sama, melainkan mendorongnya kuliah di jurusan ekonomi.

Padahal, kala itu Iryanto bercita-cita menjadi arsitek. “Meskipun saya dari jurusan IPA, itu tidak menjadi halangan bagi saya untuk mengambil jurusan akuntansi di Universitas Diponegoro (Undip).

Ternyata, puji Tuhan, saya bisa masuk ke Fakultas Ekonomi Undip,” kenangnya. Setelah mendapatkan gelar sarjana pada tahun1987, Iryanto mengawali kariernya sebagai auditor di kantor Akuntan Publik SGV-Utomo, Arthur Andersen pada tahun 1988.

Menurut Iryanto, Arthur Andersen merupakan perusahaan jasa akuntansi terbaik di kala itu. Namun, ia tak bertahan lama bekerja di situ. Setahun kemudian, ia memutuskan bekerja di PT Bank Exim sebagai senior manager.

Bagi Iryanto, bekerja di bank merupakan pekerjaan yang menjanjikan, waktu itu pemerintah memberikan izin kepada bank-bank baru untuk buka di Indonesia. Ditambah pula, niatnya pindah kerja didukung pula oleh kedua orang tuanya.

Di Bank Exim, kisah Iryanto, dia mendapat banyak kesempatan mengikuti berbagai pelatihan di luar negeri. Mulai dari Singapura hingga Amerika Serikatdan Inggris.

Bahkan dia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan dan meraih gelar Master of Business Administration (MBA) di The Peter F Drucker M.Ito Business School, CGU, California, Amerika Serikat.

“Saat itu, perbankan milik milik pemerintah memang sedang gencar-gencarnya mendorong agar karyawan mereka maju. Jadi begitu saya masuk, saya mendapat banyak pendidikan. Sampai akhirnya saya mendapat kesempatan melanjutkan dengan biaya kantor,”ujar Iryanto.

Sampai akhirnya pada bulan Juli 1999, Bank Exim dimerger dengan tiga bank lainnya menjadi PT Bank Mandiri.

Pada saat itu, Iryanto kembali dipercaya menjadi Group Head Investigator. Setahun menjalani jabatan baru di satuan kerja audit internal Bank Mandiri tersebut, Iryanto memutuskan keluar. Dia pun kemudian bekerja di PricewaterhouseCoopers (Pwc) Indonesia sebagai Direktur Risk Management mulai tahun (2001-2004). Kariernya terus melejit dan berpindah di banyak perusahaan. Tahun 2004 dia menjadi Kepala Satuan Audit Intern PT Bank BII Tbk.

Selanjutnya, Iryanto menjabat sebagai Direktur SDM dan Umum PT Samudra Indonesia Tbk pada 2010 – 2011. Berikutnya, Iryanto mejadi Senior Advisor PT Bank Agris sejak 2011, dilanjutkan menjadi komisaris dan Chairman Pemantau Risiko di PT Asuransi Cigna Indonesia pada 2014. Ia juga menjadi Anggota Komite Pemantau Risiko Dewan Komisaris PT Bank Ekonomi.

Iryanto pun sempat menjadi Kepala Satuan Pengawasan Intern (KSPI) PT PLN pada periode 2012 hingga 2015. Lalu pada 2015, Iryanto ditunjuk sebagai Direktur Keuangan Perum Bulog, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Direktur Utama PTPN IX. Iryanto yakin, penunjukkan dirinya menjadi orang nomor satu di PTPN IX tidak dilakukan begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *